Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2012

A Pendahuluan

             Salah satu karakteristik trend marketing dalam Era Globalisasi adalah munculnya apa yang disebut Multi Level Marketing. Hal ini terbukti dengan banyaknya perusahaan yang memakai sistem Multi Level Marketing untuk memasarkan produk-produknya. Konsep MLM yang lahir pada tahun 1939 merupakan kreasi dan inovasi marketing, sebagai solusi untuk melibatkan masyarakat konsumen dalam kegiatan usaha pemasaran. Dengan maksud agar masyarakat konsumen dapat menikmati tidak saja manfaat produk, tapi juga manfaat finansial (dalam bentuk insentif, hadiah dan bahkan kepemilikan saham perusahaan).

Ide kelahiran konsep MLM ini dilatarbelakangi kenyataan bahwa, konsep retail dan direct selling (tanpa melupakan segala kelebihannya), hanya memberikan manfaat finansial kepada kalangan tertentu yang jumlahnya terbatas. Yakni pemilik modal dan pengelola usaha, tenaga adm, karyawan, sales atau kurir. Dan pihak ketiga yang berkemampuan menjadi jasa perantara (minimal mampu membuka kios). Serta pihak keempat yang melaksanakan peran advertising (periklanan), seperti stasiun tv, radio, koran, majalah, papan reklame dan sejenisnya. Sementara masyarakat konsumen hanya diposi­sikan sebagai penerima manfaat produk saja.

Diakui bahwa konsep MLM non syariah yang tumbuh dan berkembang di bumi nusantara ini sejak tahun 1986 dan kini telah mencapai 106 perusahaan. (62 perusahaan diantaranya memiliki Izin Usaha Penjualan berjenjang dari Deperidag RI) memang telah meningkatkan derajat ekonomi (sebagian) masyarakat konsumen (distributornya). Namun yang menjadi masalah adalah soal kehalalan dan kesucian produk, aturan main dan budaya kerjanya, apakah produk yang dijual bebas dari unsur-unsur yang diharamkan dalam Islam dan apakah cara kerjanya  bebas dari unsur riba, gharar (tipuan atau ketidak pastian), maisir (judi) dan zulm (eksploitasi)? Makalah singkat ini akan berupaya memaparkan hal ini dengan menjelaskan apa yang dimaksud dengan bisnis multi Level Marketing dan ciri khasnya, dan pandangan Islam terhadp bisnis ini.

 

B. Pengertian dan Ciri Bisnis Multi Level Marketing

Secara sederhana marketing (pemasaran) adalah rangkaian proses perpindahan produk dan produksen ke konsumen. Tenaga kerja yang melakukan proses perpindahan produk dimaksud disebut marketer. Pakar marketing dari USA Don FailIa membagi mar­keting menjadi tiga bagian. Yakni Retail (eceran). Direct Mar­keting (pemaaaran langsung) dan Multi Level Marketing (pemasaran berjenjang). Dan setiap bagian memiliki aturan main, karakter kerja dan missi usaha masing-masing.

             Berbeda. dengan marketing dalam pengertian tradisional, Multi Level Marketing dinilai sebagai  metode pemasaran yang lebih efisien dan efektif pada tingkat retail (penjualan eceran) karena besarnya dan luasnya gerakan individu-individu yang melancarkan program marketing ini dibandingkan sistem pemasaran biasa. Multi Level Marketing atau Network Marketing merupakan sistem pendistribusian barang atau jasa lewat suatu jaringan atau orang-orang yang independen, kemudian orang-orang ini akan mensponsori orang-orang lain untuk membantu-meneruskan lewat satu atau beberapa tingkat pemasukan. (David Roller, 1995: 3)

                  Peter Clotier dalam bukunya yang berjudul Multi Level Marketing A Practical Guide To Succesful Network Selling seperti yang dikutip Yoes Axinantio, merumuskan Multi Level Marketing merupakan suatu cara atau metode menjual barang secara langsung kepada pelanggan melalui jaringan yang dikembangkan oleh para distributor yang memperkenalkan para distributor berikutnya.( Yoes Axinantio, 1996:10)

            Multi Level Marketing merupakan salah satu dari berbagai cara yang dapat dipilih oleh sebuah perusahaan atau pabrik (produsen) untuk mema­sarkan atau mendistribusikan atau menjual produknya kepada pelanggan eceran dengan memberdayakan distri­butor independennya untuk melaksanakan tugas pemasaran atau pendistribusian atau penjualan produk melalui pengembangan armada pemasaran atau distribu­tor atau penjual langsung secara mandiri (indepen­den), tanpa campur tangan langsung perusahaan. Target penjualan  dalam jaringan kerja seperti ini sepenuhnya ditentukan oleh distributor independen dan jaringan penjual langsung yang dikembangkannya. Sementara imbal jasa dalam bentuk potongan harga, komisi, atau insentif ditetapkan oleh perusahaan produsen secara berjenjang sesuai dengan jumlah nilai penjualan (volume point atau business point) yang diberitahukan kepada setiap distributor independen sejak mereka mendaftar sebagai calon anggota.

Adapun yang menjadi ciri-ciri dan bisnis Multi Level Marketing adalah:

  1. Memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anggota untuk berhasil.
  2. Keuntungan dan keberhasIlan distributor sepenuhnya ditentukan oleh hasil kerja (keras) dalam bentuk penjualan dan pembelian produk dan jasa perusahaan.
  3. Setiap anggota berhak menjadi anggota satu kali.
  4. Biaya pendaftaran menjadi anggota tidak terlalu mahal dan dapat dipertanggungjawabkan karena nilainya setara dengan barang yang diperoleh.
  5. Keuntungan yang diperoleh distributor independen dihitung dengan sistem perhitungan yang jelas berdasarkan hasil penjualan pribadi maupun jaringannya.
  6. Setiap distributor independen dilarang untuk menumpuk barang, karena yang terpenting adalah pemakaian produk yang dirasakan manfaat atau khasiatnya secara langsung oleh konsumen.
  7. Keuntungan yang dinikmati anggota Multi Level Marketing, tidak hanya bersifat finansial tetapi juga non finansial seperti penghargaan, posisi dalam peringkat, derajat sosial, kesehatan, pengembangan karakter, dan sebagainya.
  8. Perusahaan Multi Level Marketing membina distributornya dalam program pendidikan dan  pelatihan yang berkesinambungan.
  9. Dalam sistem Multi Level Marketing pelatihan produk menjadi hal yang sangat penting untuk disampaikan kepada konsumen.
  10. Setiap sponsor atau up-line berkepentingan untuk meningkatkan kualitas distributor di jaringannya.
  11. Pembagian komisi atau bonus biasanya dilakukan sebulan sekali. (Andreas Harefa, 1999: 19)

Sistem Multi Level Marketing diakui sebagai sistem yang baik dan karenanya perusahaan Multi Level Marketing diterima sebagai anggota APLI (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia) atau WFDSA (World Federation of Direct Selling Association). Sistem Multi Level Marketing dianggap banyak kalangan merupakan salah satu peluang usaha terbaik, yang memerlukan usaha yang nyata dan bukan hanya menunggu. Karena dalam sistem Multi Level Marketing mengutamakan komitmen dan loyalitas diantara anggotanya. Konsep kemitraan antara perusahaan dan distributor (bahkan termasuk pemerintah, konsumen dan masyarakat) sangat jelas dalam sistem network marketing ini.

              Untuk mencapai kesuksesan dalam Bisnis Multi Level Marketing, diperlukan usaha dan kerja keras. Ada beberapa usaha yang perlu dikembangkan untuk meraih kesuksesan dalam bisnis ini  yaitu dengan rumusan 4SDK:

a.  Schooling

Belajar, bukan hanya meinpelajari tentang kesempatan bisnis yang ditawarkan, tetapi juga mempelajari semua aspek yang tercakup dalam perusahaan seperi produk dan sistem kerja perusahaan.

b.  Selling

Dalam usaha Multi Level Marketing, seseorang dituntut tidak hanya berhasil dalam menjual produk, tapi juga harus mampuan menjual konsep dalam jaringan yang dibina. Sebab bisnis Multi Level Marketing  merupakan bisnis yang banyak melibatkan orang- orang dalam mencapai keberhasilan dan  keuntungan.

c.  Servicing

Membenikan pelayanan yang baik kepada pelanggan salah satu kunci dalam meraih kesuksesan. Sebab pelanggan adalah orang yang paling penting yang membawa segala keinginannya kepada seseorang dan tugasnyalah yang menanganinya secara baik dan menguntungkan.

d.  Sponsoring

Sponsoring merupakan kunci sukses dalam bisnis multi level marketing. Jika seseorang berhasil mensponsori orang-orang agar bergabung dalam jaringannya, berarti akan menambah poinnya, sebab dalam Multi Level Marketing penjualan seorang down line juga merupakan penjualan upline.

e.  Duplikasi

Tugas terpenting dalam Multi Level Marketing  adalah bagaimana seseorang bisa menduplikasikan diri kepada orang lain yang telah berhasil direkrut, sehingga orang-orang inipun akan berusaha menduplikasikan dirinya kepada orang lain.

f.  Keberanian

Kunci keberanian pada dasarnya adalah kepercayaan diri. Untuk itu seseorang perlu menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Dengan percaya diri yang baik, akan mambantu seseorang dalam penjualan, menghadapi orang-orang khususnya pelanggan serta dalam membina jaringannya sendiri.

Konsep Multi Level Marketing sesungguhnya sangat sederhana yang memungkinkan seseorang memperoleh ratusan bahkan ribuan orang untuk menambah penghasilan, tanpa seorangpun harus dibayar. Secara lebih luas seseorang bisa melihat bahwa konsep yang digunakan oleh sistem Multi Level Marketing adalah menggandakan diri sendiri, sponsoring (mengajak) dan mengajar. Multi Level Marketing memungkinkan seseorang menggandakan dirinya dalam diri orang lain, yang akan menghasilkan pelipatgandaan usaha tersebut. Hanya orang yang memahami sistem inilah yang bisa menggandakan dirinya dalam mengembangkan orang-orang lain dalam jaringan yang dibinanya, sehingga orang-orang tersebut akan menjadi pemimpin-pemimpin, dan pada akhirnya akan meneruskan usaha ini.

Sponsor dalam sistem Multi Level Marketing berarti memberi kesempatan berusaha kepada orang lain yang ingin menjalankan usahanya sendiri. Atau dengan kata lain, sponsoring dalam Multi Level Marketing merupakan suatu aspek yang sangat menentukan kesuksesan seseorang dalam menjalankan usaha Multi Level Marketing dan ini harus terus dilakukan.Misalkan, seseorang mensponsori dan mengajar A. Dalam penggandaan ini, A pun akan mencari  B untuk disponsorinya. Dan tentu saja B juga akan berusaha mensponsori C. Dalam perkembangannya  A akan mengajar  C (pada tingkatan level ke-3). Jika  A sudah bisa menggandakan atau menduplikasikan dirinya pada  B dan  C, maka  B dan  C merupakan kunci untuk rnengembangkan jaringan pada tingkatan berikutnya. Keberhasilan dalam penggandaan, pensponsoran, dan mengajar merupakan kunci sukses dalam sistem Multi Level Marketing. Untuk mencapai keberhasilan dalam penggandaan Multi Level Marketing diperlukan suatu cara untuk membangun usaha yang mandiri dalam lingkungan Multi Level Marketing.

            Di tengah persaingan bisnis belakangan ini, ada beberapa pihak (perusahaan) yang berusaha menjalankan sistem pemasaran yang hampir mirip dengan sistem Multi Level Marketing tetapi bukanlah Multi Level Marketing, diantara system pemasaran itu adalah

1. Piramide

            Penjualan Piramide yaitu Suatu penjualan produk dengan harga yang selalu naik, mata rantai dari agen ke agen sampai suatu titik, produk itu akan menjadi sangat mahal harganya dan pada hakekatnya menjadi tidak dapat dijual. Dalam sistem penjualan piramide ini yang dapat memperoleh keuntungan yang dijanjikan perusahaan hanya orang yang berada dipuncak piramide. Sedankgan mereka yang mendaftar belakangan tidak memiliki sama sekali peluang untuk mendapatkan keuntungan. Padahal dalam prinsip umum Multi Level Marketing, yakni semua anggota memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan keuntungan dan penjualan produk.

 

2. Surat Berantai

             Pemasaran produk dengan skema piramida dan pola investasi surat berantai ini memiliki ciri-ciri khusus.

(a) Pungutan biaya pendaftaran anggota yang relatif besar dan sebagian dipergunakan untuk memberikan kompensasi (bonus atau komisi) kepada orang-orang yang merekrut atau mensponsori anggota baru. Akibatnya pada anggota perusahaan dengan skema piramida ini lebih sibuk melakukan perekrutan dan melalaikan tanggungjawab untuk melakukan penjualan produk dan memberikan pelayanan kepada. Pelanggan. Bahkari ada juga perusahaan dengan dalih menggunakan sistem komputerisasi maha hebat dan maha moderen, tidak mensyaratkan perekrutan dan penjualan. Orang-orang yang berminat hanya perlu mendaftarkan diri dengan membayar sejumlah uang tanpa mendapatkan produk yang berarti dan kemudian menunggu durian runtuh untuk menjadi orang kaya baru.

(b) Ketidakpedulian perusahaan dan distributor independennya terhadap kualitas produk dan kepuasan pelanggan, sehingga konsumen cenderung menjadi korban. Ketidakpedulian ini juga nampak nyata karena banyak distributor yang telah memesan produk sebagai syarat menjadi anggota, kemudian tidak pernah mengambil produk tersebut dari perusahaan. Sementara perusahaan acapkali kehabisan stok produk tertentu dan lalai untuk menyedikannya dalam kurun waktu yang dijanjikan. (c) Tidak adanya penjanjian atau kontrak tertulis antara perusahaan dengan distributornya. (d) Tidak adanya pendidikan dan sistem pelatihan yang sistematis dan berkesinambungan untuk para distributor. Perusahaan dan para pemimpin jaringan tidak menunjukkan rasa tanggung jawab moral untuk mengembangkan sumber daya manusianya secara sungguh­-sungguh. (e) Dalam skema piramida, mereka yang mendaftar belakangan kurang atau tidak memiliki sama sekali  peluang untuk mendapatkan keuntungan. (Andreas Harefa, 1999:3)

            Berdasarkan ciri-ciri ini maka Penthagon, Arisan Danasonic, Yayasan Kesejahteraan Adil Makmur (YKAM) (tahun 1980), PT Sami Jaya bukanlah Multi Level Marketing (walaupun mereka mempropagandakan bisnisnya dengan sebutuan Multi Level Marketing). Perusahaan yang melaksanakan pemasaran dengan skema piramida dan investasi surat berantai tidak diterima sebagai anggota APLI atau Direct Selling Association (DSA) di negara di mana mereka beroperasi.

 

3. Sistem Binari

            Pada dasarnya sistem binari, yang dikembangkan berdasarkan pola perekrutan dua orang (dua kaki) yang diduplikasi terus menerus. Sistem binari merupakan anak kembar sistem pemasaran berskema piramida dan investasi surat berantai dengan ciri-ciri sebagai berikut :

          (a) Sistem binari hanya memberikan keuntungan kepada mereka yang mendaftar lebih dahulu. (b) Memberikan keuntungan semata-mata dari hasil perekrutan dan penyetoran uang pendaftaran. (c) Biaya pendaftaran anggota sangat tinggi dan diiringi dengan pembelian produk dengan harga yang sangat tinggi. (d)  Keuntungan yang diperoleh anggota dihitung dengan sistem format tertentu dengan besar bonus tertentu berdasarkan hasil perekrutan. (e) Tidak ada pembinaan sama sekali dan tidak melakukan pelatihan produk karena produk hanya merupakan kamuflase saja. (f) Individualisme egoistik sangat dominan dan down-line diperlakukan sebagai alat produksj saja, sebab keberhasjlan seorang up-line (yang mengajak) justru  dibangun di atas kerugian (penderitaan) down-linenya (yang mendaftar kemudian). (g)  Perusahaan dengan sistem binari hanya mengutamakan kepentingan jangka pendek, pokoknya cepat kaya tanpa kerja keras dan etika atau pninsip yang bertanggung jawab. (h) Dalam sistem binari seorang anggota dapat berulang-ulang menjadi anggota baru dengan membeli kavling (syarat menjadi anggota lagi) (i) Pembagian komisi dilakukan dalam kurun waktu yang sangat pendek, mingguan atau bahkan harian.

Bila dilihat dari cara pemberian bonus dan keuntungan perusahaan yang menitik beratkan pada hasil perekrutan dan setoran uang pendaftaran maka Sistem Binari lebih merupakan permainan uang (money game). Karena dalam sistem binari anggotanya hanya diperalat sebagai mesin pencetak uang,  dengan menjadi anggota, merekrut dua orang dan kemudian  menunggu durian runtuh. Sama dengan sistem piramide dan surat berantai. Sam dengan sistem piramida dan surat berantai sistem binaripun tidak diterima sebagai anggota APLI (Asosiasi Penjual Langsung Indonesia) atau WFDSA (World Federation of Direct Selling Association).

 

C. Prinsip-Prinsip Muamalah dalam Islam

Agar kegiatan mu’amalah seseorang sejalan dengan ketentuan agama maka dia harus menyelaraskan dengan prinsip-prinsip mu’amalah yang digariskan dalam ajaran Islam. Prinsip-prinsip mu’amalah adalah hal-hal pokok yang harus dipenuhi dalam melakukan aktifitas yang berkaitan dengan hak-hak kebendaan dengan sesama manusia. Hal-hal yang menjadi prinsip dalam bermu’amalah adalah:

  1. Mubah

Prinsip dasar dalam setiap bentuk muamalah dalam Islam adalah mubah atau boleh. Setiap akad muamalah yang dilakukan manusia dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidupnya adalah boleh selama tidak ada dalil yang menyatakan keharamannya. Hal ini didasarkan pada kaidah fiqh (Abdurrahman ibn Abu Bakar as-Suyuti, t.th: 43)

الأصل فى الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على تحريمها     

Pada prinsipnya segala sesuatu itu hukumnya mubah sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya

Yang dimaksud dengan dalil pada kaidah ini adalah dalil yang bersumber dari nash dan dalil dalam pengertian qarinah (tanda atau indikasi) yang ada pada akad. Seperti

وَاَحَلَ الله ُاْلبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا (البقرة :275 (

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Maka seluruh bentuk jual beli yang memenuhi rukun dan syarat dibolehkan dalam Islam. Namun bila ada karinah atau indikasi yang mengarah kepada bentuk yang terlarang misalnya ada unusur tipuan dalam jual beli maka jual beli menjadi terlarang.

2. Halal

Dalam melakukan mu’amalah, benda yang akan ditransaksikan harus suci zatnya sesuai dengan QS,5:88.

كُلُوْا ِممَّا فِى اْلأَرْضِ حَلالا طَيِّيْبًا (المائده: 88 )

Makanlah olehmu sesuatu yang ada di bumi yang halal lagi baik.

Halal al-thayyiban pada ayat ini mengandung pengertian zat pada benda yang ditransaksikan harus halal dan cara memperoleh benda tersebut harus degan cara yang halal pula. Dengan demikian tidak dibenarkan melakukan mu’amalah terhadap benda yang haram  secara zat seperti bangkai dan tidak dibenarkan melakukan mu’amalah terhadap benda yan diperoleh dengan cara yang tidak sah seperti jual beli barang hasil curian dan sebagianya.

3. Sesuai dengan ketentuan syari’at dan aturan pemerintah

Dalam Islam prinsip yang berlaku adalah melakukan transaksi harus sesuai dengan apa yang diatur dalam syari’at dan peraturan pemerintah. Maka  transaksi yang dilakukan dengan cara melawan hukum atau bertentangan dengan ketentuan syari’at dipandang tidak sah. Hal ini sesuai dengan Qs. 4:59:

يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اَطِيْعُوْا اللهَ وَاَطِيْعُوْا الرَّسُوْلَ وَاُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ (المائدة: 59

Hai orang yang beriman ta’atilah Allah dan  Rasul serta para Pemimpinmu.

Maksud dari ayat di atas adalah setiap mu’amalah yang dilakukan harus mematuhi dan mentaati ketentuan  yang ada dalam al-Qur’an dan Hadis serta ijma’ ulama serta peraturan pemerintah. Sebagai prinsip dari syari’at adalah menentangkan sikap amal ma’ruf nahi munkar. Dengan dasar prinsip ini segala transaksi yang membawa ke arah positif atau kebaikan dapat dibenarkan selama tidak bertentangan dengan ketentuan syari’at. Sebaliknya setiap transaksi yang membawa ke arah negatif atau merugikan para pihak dilarang oleh syari’at. Begitu juga dengan mua’amalah yang dilakukan harus dapat merealisasikan tujuan syari’at yaitu mewujudkan kemaslahatan dan menghindarkan kemudaratan dalam kehidupan manusia.

  1. Azas manfaat

Benda yang akan ditransaksikan harus mempunyai manfaat.  baik manfaat yang dapat dirasakan secara langsung seperti buah-buahan ataupun tidak langsung seperti bibit tanaman. Jadi tidak dibenarkan melakukan transaksi terhadap benda yang akan mendatangkan kesia-siaan pada para pihak. Karena mu’amalah dalam Islam harus mangandung manfaat dan menghindari bentuk kesia-siaan, karena kesia-siaan itu termasuk sikap mubazir dan orang yang melakukan tindakan mubazir termasuk saudara setan sesuai dengan QS. 17:27

ِإنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْا ِإخْوَانَ الشَّيَاطِيْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang menyia-nyiakan harta itu adalah saudara syetan.           

5. Azas kerelaan

Dalam muamalah, setiap akad atau transaksi yang dilakukan dengan sesama manusia harus dilakukan atas dasar suka sama suka atau  kerelaan. Hal ini dimaksudkan agar dalam setiap transaksi tidak terjadi karena paksaan dan intimidasi pada salah satu pihak atau pihak lain, sesuai dengan QS.4:29.

يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا لاتَأْكُلُوْا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِاْلبَاطِلِ ِالااَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang  tidak sah kecuali melalui perdagangan yang saling suka sama suka diantara kamu.

5.  Niat

Niat merupakan sesuatu yang sangat menentukan nilai suatu perbuatan, karena hasil dari suatu perbuatan tergantung pada niat. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi:

إنما الأعمال بالنيات و انما لكل امرء ما نوى (رواه البخارى ومسلم)

Sesungguhnya setiap perbuatan dinilai dengan niat dan setiap hasil perbuatan tergantung pada apa yang diniatkan.

Baik dan buruknya hasil dan transaksi tergantung pada niat seseorang, karena niat merupakan tolak ukur untuk membedakan ikhlas atau tidaknya seseorang. Kalau seseorang melakukan jual beli atau transaksi lainnya dengan  niat karena Allah maka perbuatan yang dilakukannya itu  akan bernilai ibadah di sisi-Nya. Tapi jual beli atau transaksi bisnis lainnya dilakukan hanya untuk mendapatkan keuntungan semata, maka yang akan diperoleh hanyalah nilai  materinya saja tanpa ada nilai ibadah di dalamnya. Karena niat disyari’atkan dalam Islam adalah untuk membedakan antara perbuatan yang bernilai ibadah dengan perbuatan yang hanya semata kebiasaan atau rutinitas.( Jalaluddin Abdurrahman  as-Suyuthi, : 9)

  1. Azas tolong-menolong

Manusia merupakan makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan manusia lain dalam rangka memenuhi segala kebutuhakn hidupnya. Karena manusia juga makhluk yang lemah, dia tidak mampu memenuhi segala kebutuhan hidupnya sendiri, dengan demikian manusia akan saling membutuhkan satu sama lainnya. Untuk itu perlu dikembangkan sikap hidup tolong menolong dengan sesama manusia dalam setiap aspek kehidupan, sesui dengan QS. 5:2

تَعَاوَنوُا عَلَى اْلبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنوُاْ عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة: 2)

Saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. (Rozalinda, 2005: 3-7)

Di samping itu, untuk sahnya jual beli yang dilakukan harus memenuhi rukun dan syarat: Jual beli akan sah bila terpenuhi rukun dan syaratanya, yang menjadi rukun jual beli di kalangan Hanafiyah adalah  ijab dan kabul yang menunjukkan pada saling tukar menukar atau berupa saling memberi (muathah). ( Abdurrahman al-Jaziri, t.th: h. 155). Sedangkan yang menjadi rukun jual beli di kalangan Jumhur ada tiga yaitu ba’i’ wa al-musytari (penjual dan pembeli), tsaman wa mabi’ (harga dan barang ), shighat.

Adapun yang menjadi syarat-syarat jual beli adalah:

1. Ba’i’ wa musytari (penjual dan pembeli) disyaratkan:

a. Berakal dalam arti mumaiz, maka jual beli tidak dipandang sah bila dilakukan oleh orang gila, anak kecil  yang tidak berakal.

b.  Atas kemauan sendiri

Jual beli  yang dilakukan dengan paksaaan dan intimidasi pihak ketiga tidak sah, karena salah satu prinsip jual beli adalah suka sama suka sesuai dengan QS.4:29 di atas dan hadis Nabi Saw.:

     انما البيع عن تراض

     Sesungguhnya jual beli itu harus dengan suka sama suka.

Kecuali pemaksaan itu suatu hal yang mesti dilakukan karena menjaga hak orang seperti menjual barang gadai karena keputusan hakim untuk melunasi hutang.

c.  Bukan pemboros dan pailit

Terhadap orang ini tidak dibenarkan melakukan jual beli karena mereka dikenakan hajru (larangan melakukan transaksi terhadap harta). Bagi pemboros dilarang melakukan jual beli adalah untuk menjaga hartanya dari kesia-siaan, bagi orang pailit dilarang karena menjaga hak orang lain.

2.  Mabi’ wa tsaman(benda dan uang ) disyaratkan:

   a. Milik sendiri

Barang yang bukan milik sendiri tidak boleh diperjual-belikan kecuali ada mandat yang diberikan oleh pemililik seperti  akad wikalah (perwakilan). Karena akad jual beli mempunyai pengaruh terhadap perpindahan hak milik. Maka benda yang diperjual-belikan harus miliki sendiri sesuai dengan hadis:

   لا بيع الا فيما تملك

Tidak sah jual beli kecuali terhadap benda yang dimiliki.

b.  Benda yang diperjual-belikan itu ada dalam arti yang sesungguhnya, jelas sifat, ukuran dan jenisnya. Maka tidak sah jual beli benda yang belum berwujud  seperti jual beli buah-buahan yang belum jelas buahnya (masih dalam putik), jual beli anak hewan yang masih dalam perut induknya, jual beli susu yang masih dalam susu induk (belum diperas), sesuai dengan hadis Nabi:

انه صلى الله عليه وسلم نهى عن بيع الثمار قبل بدو صلاحها

  Sesungguhnya Nabi Saw. Melarang jual beli buah-buahan sebelum jelas baiknya

c. Benda dapat diserahterimakan ketika akad secara langsung maupun tidak langsung. Maka tidak sah jual beli terhadap sesuatu yang tidak dapat diserahterimakan, misalnya jual beli burung yang terbang di udara, ikan di lautan. (Abdurrahman al-Jaziri: 166)

d. Benda yang diperjualbelikan adalah mal mutaqawwim.

  Mal mutaqawwim merupakan benda yang dibolehkan syariat untuk memanfaatkannya, maka tidak sah melaksanakan jual beli terhadap benda yang tidak dibolehkan syariat untuk memanfaatkannya seperti bangkai, babi, minuman keras dan lain sebagainya, sesuai dengan QS.5: 3):

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِوَمَا اُهِلَّ لِغَيْرِاللهِ وَالْمُنْخَنِقَةِ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَا اَكَلَ السَّبُعُ ِالاَّ مَاذَكَّيْتُمْ .(المائدة :3(

Diharamkan bagimu(memakan) bangkai dan darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang dicekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya

Dan hadist Nabi:

إن الله ورسوله حرم بيع الخمر والميتة والخنزير والأصنام (متفق عليه)

Sesungguhnya Allah dan Rasulnya mengharamkan jual beli khamar, bangkai, babi dan berhala.

Berkaitan dengan ini, Abdurrahman al-Jaziri mensyaratkan benda-benda yang diperjualbelikan harus suci, maka tidak sah melakukan jual beli najis dan benda-benda yang mengandung najis (mutanjis).

3. Sighat ijab dan Kabul (Rozalinda, 2005: 49-51)

 

C. Pandangan Hukum Islam Terhadap Bisnis Multi Level Marketing

     Sejak masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 80-an, jaringan bisnis Penjualan Langsung (Direct Selling) MLM, terus menjamur. Kian merebak lagi setelah badai krisis ekonomi. Menurut data Asosiasi Penjual Langsung Indonesia (APLI), kini terdapat sekitar 200 perusahaan MLM. Misalnya, CNI, Amway, Avon, Tupperware, K-Link, DXN, serta MLM yang berlabel syariah atau Islam seperti Ahad-net, MQ-net, PT. Surecoindo.

   Untuk menentukan halal, haram, dan syubhat-nya bisnis MLM tak bisa dipukul rata. Tidak dapat juga ditentukan oleh masuk tidaknya menjadi anggota APLI. Masing-masing memiliki karakteristik, spesifikasi, pola, sistem, dan model tersendiri, sehingga untuk menilai satu persatu san­gat sulit sekali. Dewan Syariah Nasional (DSN)-MUI telah memiliki sistem, mekanisme dan kriteria untuk penerbitan serti­fikasi bisnis syariah, termasuk MLM. Pada Juli 2003, bertepatan dengan ulang tahun MUI, DSN-MUI telah menyer­ahkan Sertifikat Bisnis Syariah kepada Perusahanaan MLM Syariah yakni Ahad Net.

    Bisnis MLM dalam kajian fiqih kontemporer dapat ditin­jau dari dua aspek, yakni dari segi produk barang atau jasa yang dijual dan dari cara ataupun sistem penjualan (selling! market­ing) yang dilakukan. Mengenai produk barang yang dijual, apakah halal atau haram tergantung kandungannya apakah tendapat sesuatu yang diharamkan Allah atau tidak, Ada unsur babi, khamr, bangkai, darah. Begitu pula jasa yang dijual ada unsur perzinaan, kemaksi­atan, perjudian atau tidak Lebih mudahnya sebagian pro­duk barang dapat dirujuk pada sertivikasi halal dan LP­POM MUI. Namun meskipun produk yang belum disertivikasi halal juga belum tentu haram tergantung pada kandungan­nya.

            Selama bisnis Multi Level Marketing MLM bebas dan unsur-unsur haram, seperti riba, garar (tipuan), dharar (bahaya) dan jahalah (ketidakje­lasan), dzulm (merugikan hak orang lain), disamping barang atau jasa yang dibisniskan adalah halal, mekanisme kerja dan pembagian keuntungan jelas dan sesuai dengan yang diperjanjikan, maka bisnis Multi Level Marketing hukumnya adalah boleh karena secara prinsip setiap transaksi dalam muamalah dibolehkan  berdasarkan kaidah fiqih  

الأصل فى المعاملات الإباحة حتى يدل الدليل على التحريمها

Hukum asal transaksi ransaksi  mu’amalat adalah boleh sehingga dating dalili yang menyatakan keharamannya

Allah SWT. berfirman:

واحل الله البيع وحرم الربا

 “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan rba” (QS.Al-Baaqarah:275),

Sabda Rasulullah SAW:

إنما البيع عن تراض

Perdagangan itu atas dasar kerelaan.” (HR.Al-Baihaqi dan Ibnu Majah)..

            Bila barang yang diperjualbelikan dikeragui kehalalanya, dan dalam sistem kerjanya terdapat unsur ketidakpastian pembagian keuntungan, dzulm (kezaliman) dalam pemenuhan hak dan kewajiban, seperti seseorang yang belum menda­patkan target dalam batas waktu tertentu sehingga ia tidak mendapat imbalan yang sesuai dengan kerja yang telah ia lakukan maka bisnis MLM tersebut tidak dibolehkan.

            Perusahaan MLM tidak hanya sekedar menjalankan penjualan produk barang tetapi juga produk jasa yaitu jasa marketing yang bertingkat-tingkat dengan imbalan berupa marketing fee, bonus dan sebagainya ter­gantung level, prestasi penjualan dan status keanggotaan distributor. Jasa perantara penjualan ini (makelar) dalam terminologi fiqih disebut “Samsarah/ simsar” ialah peran­tara perdagangan (orang yang menjualkan barang atau mencarikan pembeli) atau perantara antara penjual dan pembeli untuk memudahkan jual beli. Pekerjaan samsarah/simsar berupa makelar, distribu­tor, agen dan sebagainya dalam fiqih  terma­suk akad ijarah, yaitu suatu transaksi memanfaatkan jasa orang dengan imbalan. Pada dasarnya, para ulama membolehkan jasa ini.. Namun untuk sahnya pekerjaan makelar ini harus memenuhi beberapa syarat disamping persyaratan di atas, antara lain sebagai berikut: (1) Perjanjian harus jelas antara kedua belah pihak.  (2) Obyek akad bisa diketahui manfaatnya secara nyata dan dapat diserahkan. (3) Obyek akad bukan hal-hal yang maksiat atau haram.

        Distributor dan perusahaan harus jujur, ikhlas, transparan, tidak menipu, dan tidak menjalankan bisnis yang haram atau syubhat (yang tidak jelas halal/haramnya). Distributor dalam hal ini berhak menerima imbalan setelah berhasil memenuhi akadnya, sedangkan pihak perusahaan yang menggunakan jasa marketing harus segera memberikan imbalan para distributor dan tidak boleh menghanguskan atau menghilangkannya. sesuai dengan hadits Nabi:

أعطوا الأجير أجره قبل ان يجف عرقه

“Berilah para peker­ja itu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah, Abu Ya’la dan Tabrani).

        Jumlah upah atau imbalan jasa yang harus diberikan kepada makelar atau distributor adalah menurut perjan­jian, sesuai dengan firman Allah:

يأيها الذين امنوا أوفوا بالعقود

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (penjanjian-perjanjian) mu (QS. Al-Maidah: 1)  

Hadits Nabi:

المسلمون على شروطهم

        “Orang-orang  Islam itu tenikat dengan perjanjian-perjanjian mereka.” (HR.Ahmad, Abu Dawud, Hakim dan Abu Hurairah).

        Dalam menjalankan bisnis dengan sistem MLM perlu mewaspadai dampak negatif psikologis yang mungkin timbul sehingga membahayakan keperibadian, diantaranya: obsesi yang berlebihan untuk mencapai target penjualan tertentu kare­na terpacu oleh sistem,  suasana tidak kondusif yang kadang mengarah pada pola hidup hedonis ketika me­ngadakan acara rapat dan pertemuan bisnis, banyak yang keluar dan tugas dan pekerjaan tetapnya karena terobsesi akan mendapat harta yang banyak dengan waktu singkat, sistem ini akan memperlakukan seseorang (mitranya) berdasarkan target-target penjualan kuantitatif material yang mereka capai yang pada akhirnya dapat mengkon­disikan seseorang berjiwa matenialis dan melupakan tujuan asasinya untuk dekat kepada Allah di dunia dan akhirat.

            The Islamic Food and NutrItion of America (IFANCA) telah mengeluarkan edaran tentang produk MLM halal dan dibenarkan oleh agama yang ditekan langsung oleh M. Munir Chaudry, Ph.D, selaku Presiden IFANCA. Dalam edarannya IFANCA mengingatkan umat Islam untuk meneliti dahulu kehalalan suatu bisnis MLM sebelum bergabung ataupun menggunakannya yaitu dengan mengkaji aspek:

1. Marketing plan-nya, apakah ada unsur skema pirami­da atau tidak. Kalau ada unsur piramida yaitu distribu­tor yang lebih duluan masuk selalu diuntungkan de­ngan mengurangi hak distributor belakangan sehingga merugikan down-line di bawahnya, maka hukumnya haram.

2. Apakah produknya mengandung zat-zat haram ataukah tidak, dan apakah produknya memiliki jaminan untuk dikembalikan atau tidak.

3. Apabila perusahaan lebih menekankan aspek targeting penghimpunan dana dan menganggap bahwa produk tidak penting ataupun hanya sebagai kedok atau kamu­flase, apalagi uang pendaftarannya cukup besar nilainya, maka patut dicurigai sebagai arisan berantai (money game) yang menyerupai judi.

4. Apakah perusahaan MLM menjanjikan kaya mendadak tanpa bekerja ataukah tidak.

Selain kriteria penilaian di atas perlu diperhatikan pula hal-hal berikut:

1.    Transparansi penjualan dan pembagian bonus serta komisis penjualan, disamping pembukuan yang menyangkut perpajakan dan perkembangan network­ing atau jaringan dan level, melalui laporan otomatis secara periodik.

2.    Penegasan motif dan tujuan bisnis MLM sebagai sarana penjualan langsung produk barang ataupun jasa yang bermanfaat, dan bukan permainan uang.

3.    Meyakinkan kehalalan produk yang menjadi objek transaksi ril (underlying transaction) dan tidak men­dorong kepada kehidupan boros, hedonis, dan memba­hayakan eksistensi produk muslim maupun lokal.

4.    Tidak adanya excesive mark up (ghubn fakhisy) atas harga produk yang dijualbelikan di atas covering biaya promosi dan marketing konvensional.

5     Harga barang dan bonus (komisi) penjualan diketahui secara jelas sejak awal dan dipastikan kebenarannya saat transaksi.

6.    Tidak adanya eksploitasi pada jenjang manapun antar distributor ataupun antara produsen dan distributor, terutama dalam pembagian bonus yang merupakan cer­minan hasil usaha masing-masing anggota. (Modal No. 12/1-Oktober 2003, h. 32)

       Mengenai beberapa bisnis yang memakai sistem MLM atau hanya berkedok MLM yang masih meragukan (syub­hat) ataupun yang sudah jelas ketahuan tidak sehatnya bis­nis tersebut baik dan segi kehalalan produknya, sistem marketing fee, legalitas formal, pertanggungjawaban, tidak terbebasnya dari unsur-unsur haram seperti; riba ataupun penggandaan uang, dzulm dan gharar (merugikan nasabah dengan money game), maysir (perjudian), seperti kasus New Era 21, BMA, Solusi Centre, PT BUS  sebaiknya ditinggalkan. Dengan demikian, seluruh masyarakat, khususnya stake­holders, para praktisi dan pemer­hati yang telah menyimak presentasi sistem MLM perlu secara objektif, mandiri dan proaktif mempelajari batasan-­batasan umum syariah sebagai panduan dan dasar penila­ian kesesuaian ataupun pelanggaran syariah demi memas­tikan kehalalan masing-masing perusahaan MLM.

 

D. Penutup                            

            Sebagai bisnis Multi Level Marketing, setiap perusahaan tentu harus mememenuhi ketentuan bisnis yang Islami. Yakni  Marketing plan-nya, bukan sistem piramida, produknya halal dan bebas dari unsur yang diharamkan dalam Islam, perusahaan lebih menekankan pada aspek produk, bukan aspek targeting penghimpunan dana, transparansi penjualan dan pembagian bonus serta komisi penjualan harus jelas dan  kehalalan produk yang menjadi objek transaksi ril serta tidak men­dorong kepada kehidupan boros, hedonis. Tidak adanya excesive mark up atas harga produk yang dijeluabelikan di atas covering biaya promosi dan marketing konvensional. Ini berarti dalam sistem penjualan harus terjadi keseimbangan antara nilai uang dimasukkan anggota ke perusahaan dengan nilai barang yang diterimanya. Harga barang dan bonus (komisi) penjualan diketahui secara jelas sejak awal dan dipastikan kebenarannya saat transaksi. Tidak adanya eksploitasi pada jenjang manapun antar distributor ataupun antara produsen dan distributor. Jika hal itu dipenuhi dan menjadi prinsip manajemen perusahaan maka bisnis Multi Level Marketing yang dilakukan dibenarkan dalam Islam.

 

KEPUSTAKAAN

Axinantio, Yoes, Multi Level Marketing dan Mail Order, (Pekalongan: CV Gunung Mas, 1996) cet.ke l

Al-Jaziri, Abdurrahman, Al-Fiqh ala al-Mazhib al-Arba’ah, (t.t: Dar al-Fikr li al-Tab’ah wa al-Nasyir, al-Tauzi’, Juz. II,

Harefa, Andreas, Multi Level Marketing Alternatif Karier dan Usaha Menyongsong Milenium Ketiga, Jakarta: PT:Gramedia Pustaka Utama, 1999, cet.ke-1,

Kotler, Philip, Gamy Amstrong, Dasar-Dasar Pemasaran, (Jakarta: Iritermedia, 1995), cet. Ke 6, jilid I

Roller, David, Menjadi Kaya Dengan Multi Level Marketing, Jakarta: PT. Gramedia, 1995, Cet ke 1

Rozalinda, Fiqh Muamalah dan Aplikasinya Dalam Perbankan Syari’ah, Padang: Hayfa Press, 2005

As-Suyuti, Abdurrahman ibn Abu Bakar, Asybah wa an Nazair fi al Furu’, Semarang: Maktabah Usaha Keluarga, t.th

Utomo, Setiawan Budi, Multi Level Marketing, Modal No. 12/1-Oktober 2003

Iklan

Read Full Post »